Kamis, 27 Maret 2008

4. Islam & Mesjid Tertua Di Cina

Usia islam di cina sudah 1355 tahun, hampir sama dengan usia islam itu sendiri. Ketika kekalifaan islam pertamakali berdiri di tanah arab, agama ‘baru’ islam telah menarik perhatian ‘negara-negara’ di sekitar arab hingga ke Cina. Terdorong keinginan untuk mengetahui ‘kekuatan’ baru itu, kaisar Cina ‘Yung-Wei’ mengundang ‘petinggi’ kalifah untuk mengunjungi Cina. Tersebutlah dalam dokumen sejarah Cina, khalifah Usman mengirim 4 orang utusan islam ke Cina, dipimpin oleh Sa'ad ibn Waqqas – paman nabi Muhammad pada tahun 651, atau 16 tahun setelah nabi wafat. Perjalanan rombongan Sa'ad ibn Waqqas dimulai tidak melalui jalur perdangan sutra (silk road) di utara namun melalui jalur selatan; dari mekah, menyeberangi laut merah, laut India kemudian selat malaka, laut cina selatan dan akhirnya tiba di kota Canton (sekarang Guangzhow, dekat Hongkong) dan disambut oleh kaisar cina.

Negara Cina dan 25 Propinsi Cina


Dalam pertemuan tersebut Sa'ad ibn Waqqas menyampaikan dakwah agar kaisar memeluk agama islam. Meski gagal meyakinkan kaisar cina untuk masuk islam namun kaisar memberikan keleluasaan dan kebebasan kepada rombongan Sa'ad ibn Waqqas untuk menetap di Cina serta membangun mesjid di kota Guangzhow. Demikianlah akhirnya Sa'ad ibn Waqqas membangun mesjid pertama di Cina, di kota Guangzhow hingga beliau wafat di sana. Mesjid Guangzhow yang masih berdiri hingga saat ini menjadi bukti dan saksi ‘kelahiran’ islam di Cina bagian timur. Banyak makam para ulama islam tionghoa keturunan arab di kota quanzhou tersebut.

Mesjid "Huai-Sheng" : Mesjid tertua di Cina, didirikan oleh Sa'ad bin Abi Waqqas 1300 tahun yang lalu di Guangzhou (dulu Canton). Mesjid ini memiliki beberapa nama seperti "Great Mosque of Canton", "Guangta Si Mosque", "Hwai Sun Su Mosque", "Ying Tong Mosque", "Huai-Shang Mosque"., "dan "Huai-Shang Si Mosque".


100 tahun kemudian, pada tahun 755, atas permintaan kaisar Cina “Tsung”, kalifah Otoman Turki “Abu Jafar al-Mansur” mengirim rombongan 4000 tentara muslim turki ke Cina untuk membantu kaisar “Tsung” dalam menghadapi pemberontakan yang dilakukan komandan cina “An LuShan”. Dari arah barat, melalui jalur sutra, pasukan muslim mendarat dan ditempatkan di Ch’angan (sekarang Xian, cina bagian tengah), banyak para tentara muslim itu kemudian kawin dan beristrikan wanita cina dan melahirkan suku bangsa ‘Hui’ yang hampr 100% muslim, dan dari perkawinan-perkawinan inilah kemudian menurunkan generasi baru Cina ‘Hui’. Sebutan “Hui” berasal dari 3 karakter cina ‘Hui vu er’ yang artinya orang Huighur atau Uighur.

Komplek & Kuburan Sa'ad bin Abi Waqqas di Guangzhow Cina.


Sebelumnya, tahun 717- - 720 tercatat delegasi kecil muslim dikirim khalifah Persia “Umar bin Abdul Aziz” ke Tibet untuk mendakwahkan islam.

Jadi di bagian barat Cina berkembang muslim Cina keturunan turki, di timur (termasuk Taiwan) berkembang mulim keturunan arab dan di bagian selatan (khusunya Tibet) berkembang islam Cina keturunan Iran. Keberadaan ketiga kelompok islam Cina keturunan ini telah menyemarakan dakwah islam hingga banyak penduduk asli cina memeluk islam. Islam local (asli Cina) dikenal dengan sebutan ‘Hans’. Berbeda dengan islam cina keturunan arab dan turki yang pada umumnya pedagang, orang-orang ‘Hans’ umumnya adalah orang-orang terpelajar dan mendapat kedudukan terhormat di lingkungan pemerintahan kekaisaran cina.

Adanya jalur perdagangan sutra (silk road) yang membentang dari Roma di barat hingga bagian timur Cina yang didominasi oleh para pedagang muslim arab dan turki mengakibatkan islam berkembang sangat cepat di Cina.

Jalur Sutra "Silk Road"


Peran penting islam dalam kekaisaran di cina mulai terjadi pada abab 10 ketika penguasa Kashgar di bagian barat cina berpindah ke islam, ia dikenal dengan nama Sultan Sutuq Bughrakhan of Kashgar dan kemudian memperluas kekuasaannya atas jalur sutra hingga ke barat dan selatan wilayahnya. Satu abab berikutnya islam telah mengisi hampir seluruh wilayah Cina dan populasi muslim diseluruh Cina telah lebih dari 50% penduduk Cina. Orang-orang islam mendominasi pemerintahan di hampir seluruh propinsi di Cina, khususnya orang-orang islam ‘Hans’.


Mesjid Ashab - Guangzhow (sebelum dan setelah renovasi,
dibangun tahun 1009 semasa Kaisar Zhida dari Dinasti Yuan.


Selama dinasti Song (960 – 1279) cina menikmati pertumbuhan ekonomi yang luar biasa karena maraknya perdagangan di wilayah Xian yang dimotori oleh pedagang muslim. Saat itu menyusul dibangun kota pelabuhan Ch'ang - an (Xian) sebagi pusat komunitas muslim dan memperluas hingga ke Guangzhou di timur cina. Di Guangzhou orang-orang muslim mendapat kedudukan istimewa untuk mengatur dan membangun Guangzhou. Inilah decade dimana cina dan islam mencapai masa keemasannya.

Supreamasi islam di barat cina menurun drastis ketika Mongol non-muslim mengivasi cina dan mendirikan dinasti Yuan (1260 - 1382) dan dinasti Song pun tumbang pada tahun 1279. ‘Yuan’ adalah salah satu dari empat kaisar Mongol keturunan jengis Khan, yaitu yang disebut ‘Golden horde’, ‘Hulagu’ Ulu’, ‘Chatagai’ Ulu’ dan ‘Yuan’. Kecuali ‘Yuan’ ketiga kaisar lainnya adalah muslim. ‘Yuan’ penganut Buhism Tibetian.

(Baca history pada http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Mongolia).


Meski peran islam tidak menonjol pada masa dinasti Yuan namun islam masih berperan di tingkat administrasi Negara. Orang mongolia memang mahir berperang namun tidak mengerti administrasi dan pengelolahan Negara. Oleh karena bangsa han yang ditaklukannya lebih maju peradapannya maka masih cukup banyak orang-orang ‘Hans” turunan muslim diangkat untuk menduduki jabatan Negara. Namun bukan berarti waktu itu umat islam tidak mengalami tekanan ,karena ada perbedaan budaya yang besar sekali antara pemerintah mongol dan kebanyakan muslim pada saat itu sehingga menimbulkan orang muslim juga diperlakukan tidak adil sehingga mempelopori berdirinya dinasti ming (1368-1644) dengan mengadakan perlawanan terhadap pihak dinasti yuan.

Islam mengalami masa kegemilangan kembali pada zaman dinasti Ming (1368-1644) pada masa mana banyak pejabat negara yang beragama islam, Pada periode inilah kaisar Ming Cheng Zhu,mengirim misi muhibah persahabatan yang dipimpin oleh laksaman zhenghe (Cheng Ho ) yang muslim menuju ke negara asia tenggara,india,semenanjung arab dan afrika barat. Cheng Ho berasal dari Yunan, baratdaya cina. Media cina menamakan Cheng Ho ‘Eunuch Sam Poh’. Ia melanglang buana dan telah singgah di benua Amerika 80 tahun sebelum Colombus menemukan Amerika.

Setelah dinasti ming runtuh, bangsa Man (Manchuria) dari utara menggantikan pemerintahan Ming mendirikan dinasti Qing. Pada zaman itu umat islam yang tinggal di china barat laut mendapat tekanan dari kerajaan Qing, karena banyak umat islam pada waktu itu mendukung dinasti Ming. Banyak perlawanan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan muslim pada waktu itu kepada dinasti Qing dan belakangan diikuti oleh orang-orang Han sehingga pendiri republik tiongkok(republic of china) pimpinan dr.sun yat zen (sun zhong shan). Dalam san min zhu yi (tiga landasan pokok negaranya, dr.sun yat zen mengakui keberanian pahlawan-pahlawan muslim sebagai sumber inspirasi utama perjuangan kebebasan negara tiongkok modern.

Pada masa republik tiongkok/republic of china (1911-1949) umat islam banyak menduduki pos-pos kementerian Negara dan menjadi petinggi partai kuo min tang,pada waktu itu banyak madrasah didirikan, menurut catatan pemeintah nasionalis kuo min tang yang sampai sekarang menguasai taiwan,di beijing hampir ada 40 masjid, saat dibawah pemerintahan komunis era tertutup, mesjid di Beijing tinggal 3 masjid, sisanya di alih fungsikan sebagai pabrik.

Berdasarkan survey tahun 2006 (http://www.islamicpopulation.com/world_islam.html), dari lebih 1,3 milyar penduduk cina hampir 15 % (atau hampir 200 juta) adalah muslim, atau 80% dari penduduk muslim Indonesia. Muslim Cina banyak ditemukan di minimal 15 dari 25 propinsi yang ada di Cina sekarang.

Kini, pada masa Cina era ‘keterbukaan’ islam kembali menggeliat. Berbarengan dengan era ‘keterbukaan’ ini tantangan yang dihadapi umat islam di Cina tidak kecil. Preseden runtuhnya Uni Soviet dan berlomba-lombanya ‘negara-negara satelit’ bekas Uni Soviet (Kazakstan, Usbekistan, dan lain-lain) yang notabene adalah juga keturunan Mongol (Golden Horde) untuk merdeka, sangat disadari oleh pemerintah komunis cina, dapat memberi inspirasi pada kantong-kantong muslim di Cina untuk memerdekakan diri atau melepaskan diri dari Cina. Kondisi ini mendorong pemerintah komunis cina meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus meningkatkan pengawasan pada kantong-kantong muslim di cina dan memfilter suara muslim Cina dari sorotan media, sebagai missal ketika muslim seluruh dunia memprotes kartun nabi Muhammad Saw, protes seperti ini tidak terdengar dari muslim di cina.

Meski saat ini sebagian besar muslim ‘taat’ adalah generasi berusia tua, kita do’a kan semoga generasi mudanya segera menemukan kembali identitas islamnya.


Video : Muslim In China.


Islam is still establishing itself in China under Beijing’s watchful eye and decades have been spent building a fragile trust between the country’s Muslims and the Communist central government. People & Power profiles two key Chinese imams who walk a fine line between their followers and the political authorities.

Tidak ada komentar: